Ki Ageng Pemanahan / Bagus Kacung (Kyai Gede Mataram) * 1501 † 1575?

Van Rodovid NL

Persoon:25698
Ga naar: navigatie, zoek
CLAN: verzamelnaam voor 1 familie met diverse achternamen Brawijaya
geslacht man
Volledige naam bij geboorte Ki Ageng Pemanahan / Bagus Kacung
andere gebruikte achternamen Kyai Gede Mataram
Ouders

Ki Ageng Enis [Br.6.2.1.1] (Ki Ageng Lawiyan) [Brawijaya V] † 1503

Nyai Ageng Ngenis [Ngenis]

Wiki-pagina [[1]]
[1][2]

Gebeurtenissen

1501 geboorte: Sultan Trenggana wafat 1546, Panembahan Senapati turut serta dalam Sayembara menangkap Arya Panangsang dalam usia sekitar 18 tahun, Senapati lahir (1546-18+2=1530) pada tahun 1530. Pemanahan lahir (1530-29=1501) pada tahun 1501

geboorte van kind: 18. Nyai Ageng Suwakul [Brawijaya]

geboorte van kind: 19. Nyai Ageng Mohamat Pekik di Sumawana [Brawijaya]

geboorte van kind: 17. Nyai Ageng Wirobodro, di Pujang [Brawijaya]

geboorte van kind: 15. Nyai Ageng Banyak Potro, di Waning [Brawijaya]

geboorte van kind: 14. Nyai Ageng Panjangjiwa [Brawijaya]

geboorte van kind: 20. Nyai Ageng Wiraprana di Ngasem [Brawijaya]

geboorte van kind: 16. Nyai Ageng Kusumoyudo Marisi [Brawijaya]

geboorte van kind: 21. Nyai Ageng Hadiguno di Pelem [Brawijaya]

geboorte van kind: 26. Nyai Ageng Sitabaya Gambiro [Brawijaya]

geboorte van kind: Raden Roro Subur [Subur]

geboorte van kind: 25. Nyai Ageng Kawangsih Kawangsen [Brawijaya]

geboorte van kind: 24. Nyai Ageng Ronggo Kranggan [Brawijaya]

geboorte van kind: 22. Nyai Ageng Suroyuda Kajama [Brawijaya]

geboorte van kind: 23. Nyai Ageng Mursodo Silarong [Brawijaya]

geboorte van kind: 13. Nyai Ageng Haji Panusa, di Tanduran [Brawijaya]

geboorte van kind: 12. Pangeran Pronggoloyo [Brawijaya]

geboorte van kind: 10. Raden Ayu Kajoran Rara Subur [Brawijaya]

geboorte van kind: 3. Pangeran Ronggo [Brawijaya]

geboorte van kind: 1. Adipati Manduranegara [Brawijaya]

geboorte van kind: 11. Pangeran Gagak Baning / Pangeran Gagak Pranolo (Bupati Pajang) [Mataram] † 1591

geboorte van kind: 5. Pangeran Hario Tanduran [Brawijaya]

geboorte van kind: 4. Nyai Ageng Tumenggung Mayang [Brawijaya]

geboorte van kind: 6. Nyai Ageng Tumenggung Jayaprana [Brawijaya]

geboorte van kind: 8. Pangeran Mangkubumi ? (Raden Jambu) [Mataram]

geboorte van kind: 9. Pangeran Singasari / Raden Santri [Mataram]

geboorte van kind: 7. Pangeran Teposono [Brawijaya]

Huwelijk: Nyai Ageng Pamanahan / Nyai Sabinah [Brawijaya]

beroep: tahun 1556 Ki Ageng Pemanahan di beri hadiah tanah di daerah MATARAM yang merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yg kini sudah menjadi hutan. Di tanah inilah Ki Ageng Pemanahan mulai menata struktur kerajaan baru yg pada saat berdirinya dimulai oleh putranya yaitu Panembahan Senopati.

1530c geboorte van kind: Kanjeng Panembahan Senapati /Danang Sutawijaya (Raden Bagus Sutawijaya) [Kesultanan Mataram] * 1530c † 1601

1575? overlijden: Mataram, Yogyakarta

Notities

Ki Ageng Pamanahan

Ki Ageng Pamanahan atau Ki Gede Pamanahan, adalah pendiri desa Mataram tahun 1556, yang kemudian berkembang menjadi Kesultanan Mataram di bawah pimpinan putranya, yang bergelar Panembahan Senapati.

Asal usul

Ki Pamanahan adalah putra Ki Ageng Henis, putra Ki Ageng Sela. Ia menikah dengan sepupunya sendiri, yaitu Nyai Sabinah, putri Nyai Ageng Saba (kakak perempuan Ki Ageng Henis).

Ki Pamanahan dan adik angkatnya, yang bernama Ki Penjawi, mengabdi pada Hadiwijaya bupati Pajang yang juga murid Ki Ageng Sela. Keduanya dianggap kakak oleh raja dan dijadikan sebagai lurah wiratamtama di Pajang.


Peran awal

Sepeninggal Sultan Trenggana tahun 1546, Kesultanan Demak mengalami perpecahan akibat perebutan takhta. Putra Sultan yang naik takhta bergelar Sunan Prawata tewas dibunuh sepupunya sendiri, yaitu Arya Penangsang, bupati Jipang.

Arya Penangsang yang didukung Sunan Kudus juga membunuh Pangeran Hadiri, suami Ratu Kalinyamat, putri Sultan Trenggana. Sejak itu, Ratu Kalinyamat memilih hidup bertapa di Gunung Danaraja menunggu kematian Arya Penangsang bupati Jipang.

Arya Penangsang ganti mengirim utusan untuk membunuh Hadiwijaya di Pajang tapi gagal. Sunan Kudus pura-pura mengundang keduanya untuk berdamai. Hadiwijaya datang ke Kudus dikawal Ki Pamanahan. Pada kesempatan itu, Ki Pamanahan berhasil menyelamatkan Hadiwijaya dari kursi jebakan yang sudah dipersiapkan Sunan Kudus.

Dalam perjalanan pulang, Hadiwijaya singgah ke Gunung Danaraja. Ki Pamanahan bekerja sama dengan Ratu Kalinyamat membujuk Hadiwijaya supaya bersedia menghadapi Arya Penangsang. Sebagai hadiah, Ratu Kalinyamat memberikan cincin pusakanya kepada Ki Pamanahan.


Melawan Arya Penangsang

Hadiwijaya segan memerangi Arya Penangsang karena masih sama-sama anggota keluarga Kesultanan Demak. Maka, ia pun mengumumkan sayembara, barang siapa bisa membunuh Arya Penangsang akan mendapatkan hadiah tanah Mataram dan Pati.

Ki Pamanahan dan Ki Penjawi mengikuti sayembara atas desakan Ki Juru Martani (kakak ipar Ki Pamanahan). Putra Ki Pamanahan yang juga anak angkat Hadiwijaya, bernama Sutawijaya ikut serta. Hadiwijaya tidak tega sehingga memberikan pasukan Pajang untuk melindungi Sutawijaya.

Perang antara pasukan Ki Pamanahan dan Arya Penangsang terjadi di dekat Bengawan Sore. Berkat siasat cerdik yang disusun Ki Juru Martani, Arya Penangsang tewas di tangan Sutawijaya.

Ki Juru Martani menyampaikan laporan palsu kepada Hadiwijaya bahwa Arya Penangsang mati dibunuh Ki Pamanahan dan Ki Penjawi. Apabila yang disampaikan adalah berita sebenarnya, maka dapat dipastikan Hadiwijaya akan lupa memberi hadiah sayembara mengingat Sutawijaya adalah anak angkatnya.


Membuka Mataram

Hadiwijaya memberikan hadiah berupa tanah Mataram dan Pati. Ki Pamanahan yang merasa lebih tua mengalah memilih Mataram yang masih berupa hutan lebat, sedangkan Ki Penjawi mandapat daerah Pati yang saat itu sudah berwujud kota.

Bumi Mataram adalah bekas kerajaan kuno yang runtuh tahun 929. Seiring berjalannya waktu, daerah ini semakin sepi sampai akhirnya tertutup hutan lebat. Masyarakat menyebut hutan yang menutupi Mataram dengan nama Alas Mentaok.

Setelah kematian Arya Penangsang tahun 1549, Hadiwijaya dilantik menjadi raja baru penerus Kesultanan Demak. Pusat kerajaan dipindah ke Pajang, di daerah pedalaman. Pada acara pelantikan, Sunan Prapen cucu (Sunan Giri) meramalkan kelak di daerah Mataram akan berdiri sebuah kerajaan yang lebih besar dari pada Pajang.

Ramalan tersebut membuat Sultan Hadiwijaya resah. Sehingga penyerahan Alas Mentaok kepada Ki Pamanahan ditunda-tunda sampai tahun 1556. Hal ini diketahui oleh Sunan Kalijaga, guru mereka. Keduanya pun dipertemukan. Dengan disaksikan Sunan Kalijaga, Ki Pamanahan bersumpah akan selalu setia kepada Sultan Hadiwijaya.

Maka sejak tahun 1556 itu, Ki Pamanahan sekeluarga, termasuk Ki Juru Martani, pindah ke Hutan Mentaok, yang kemudian dibuka menjadi desa Mataram. Ki Pamanahan menjadi kepala desa pertama bergelar Ki Ageng Mataram. Adapun status desa Mataram adalah desa perdikan atau daerah bebas pajak, di mana Ki Ageng Mataram hanya punya kewajiban menghadap saja.

Babad Tanah Jawi juga mengisahkan keistimewaan lain yang dimiliki Ki Ageng Pamanahan selaku leluhur raja-raja Mataram. Konon, sesudah membuka desa Mataram, Ki Pamanahan pergi mengunjungi sahabatnya di desa Giring. Pada saat itu Ki Ageng Giring baru saja mendapatkan buah kelapa muda bertuah yang jika diminum airnya sampai habis, si peminum akan menurunkan raja-raja Jawa.

Ki Pamanahan tiba di rumah Ki Ageng Giring dalam keadaan haus. Ia langsung menuju dapur dan menemukan kelapa muda ajaib itu. Dalam sekali teguk, Ki Pamanahan menghabiskan airnya. Ki Giring tiba di rumah sehabis mandi di sungai. Ia kecewa karena tidak jadi meminum air kelapa bertuah tersebut. Namun, akhirnya Ki Ageng Giring pasrah pada takdir bahwa Ki Ageng Pamanahan yang dipilih Tuhan untuk menurunkan raja-raja pulau Jawa.

Ki Ageng Pamanahan memimpin desa Mataram sampai meninggal tahun 1584. Ia digantikan putranya, yaitu Sutawijaya sebagai pemimpin desa selanjutnya.Kelak Sutawijaya menjadi raja Mataram Islam yang pertama dengan nama Panembahan Senopati.

Kepustakaan

Babad Tanah Jawi. 2007. (terj.). Yogyakarta: Narasi
H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
Purwadi. (2007). Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu

Bronnen

  1. http://asalsilahipunparanata.blogspot.com/ - Sumber tentang jumlah putra-putri dari istri putra Kyai Made Pandan
  2. http://www.royalark.net/Indonesia/solo2.htm -

van de grootouders tot en met de kleinkinderen

grootouders
grootouders
Ouders
Ouders
 
== 3 ==
Ki Ageng Pemanahan / Bagus Kacung (Kyai Gede Mataram)
geboorte: 1501, Sultan Trenggana wafat 1546, Panembahan Senapati turut serta dalam Sayembara menangkap Arya Panangsang dalam usia sekitar 18 tahun, Senapati lahir (1546-18+2=1530) pada tahun 1530. Pemanahan lahir (1530-29=1501) pada tahun 1501
Huwelijk: Nyai Ageng Pamanahan / Nyai Sabinah
beroep: tahun 1556 Ki Ageng Pemanahan di beri hadiah tanah di daerah MATARAM yang merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yg kini sudah menjadi hutan. Di tanah inilah Ki Ageng Pemanahan mulai menata struktur kerajaan baru yg pada saat berdirinya dimulai oleh putranya yaitu Panembahan Senopati.
overlijden: 1575?, Mataram, Yogyakarta
== 3 ==
Kinderen
Raden Ayu Retno Dumilah
geboorte: Level 2 = Cucu ke 10 dari Sultan Trenggono Demak Bintoro atau putera ke 10 Pangeran Timur / Pangeran Maskumambang Diputus Ayahnya : 188342
Huwelijk: Kanjeng Panembahan Senapati /Danang Sutawijaya (Raden Bagus Sutawijaya)
beroep: 1586 - 1590, Bupati Madiun Ke 2
11. Pangeran Gagak Baning / Pangeran Gagak Pranolo (Bupati Pajang)
titel: 1588 - 1591, Pajang, Adipati Pajang
overlijden: 1591, Astana Kota Gede
Raden Ayu Reno Dumilah
geboorte: Putri ke 10 Pangeran Timur, Sultan Trenggono
Huwelijk: 9. Pangeran Singasari / Raden Santri
18. Nyai Ageng Suwakul
geboorte: Wafat dimakamkan di Astana Lawiyan.
Kinderen
kleinkinderen
12. Ki Ageng Panembahan Djuminah ? (Pangeran Adipati Djuminah Petak / Pangeran Blitar I)
geboorte: Level 3 = Buyut ke 12 Sultan Trenggono Demak Bintoro atau putera ke 2 Raden Ayu Djumilah + Panembahan Senopati
titel: 1601 - 1613, Bupati Madiun Ke 6
8. Panembahan Hadi Prabu Hanyokrowati / Raden Mas Jolang (Panembahan Seda ing Krapyak)
Huwelijk: Dyah Banowati / Kanjeng Ratu Mas Hadi
Huwelijk: Ratu Tulungayu
Huwelijk:
titel: 1601 - 1613, Kota Gede, Mataram, Sultan Mataram Ke 2 bergelar Sri Susuhunan Adi Prabu Hanyakrawati Senapati-ing-Ngalaga Mataram
overlijden: 1613
titel: 1613, "Anumerta Panembahan Seda ing Krapyak"
11. Pangeran Adipati Pringgoloyo I ? (Raden Mas Djulig)
geboorte: Level 3 = Buyut ke 11 Sultan Trenggono Demak Bintoro atau putera ke 1 Raden Ayu Djumilah + Panembahan Senopati
titel: 1595 - 1601, Bupati Madiun Ke 5
13. Pangeran Adipati Martoloyo / Mangkunegoro II (Raden Mas Kanitren)
geboorte: Level 3 = Buyut ke 13 Sultan Trenggono Demak Bintoro atau putera ke 3 Raden Ayu Djumilah + Panembahan Senopati
titel: 1613 - 1645, Bupati Madiun Ke 7
Raden Pabelan
overlijden: 1587?
5. Pangeran Purubaya / Raden Mas Damar (Jaka Umbaran)
geboorte: 1597c, Kalkulasi Kelahiran : [(kelahiran Senapati=1530)+(Usia saat nikah=65)+((2)]= 1597
overlijden: 13 oktober 1676, Kotagede Yogyakarta
kleinkinderen

Aspecten/acties
Persoonlijke instellingen
Andere talen